Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 4, '08 12:51 AM
for everyone

Dasar Pemikiran

Ikatan Remaja Muhammadiyah yang merupakan gerakan yang berbasis pelajar dan remaja memiliki tanggungjawab untuk membentuk, menyemai dan memupuk minat membaca di kalangan remaja dan pelajar Muhammadiyah dan seterusnya adalah tugas melestarikan budaya membaca di kalangan rakyat Indonesia.

 

Peranan ini perlu untuk mengantisipasi pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi tamparan hebat kepada perilaku sosial masyarakat yang cenderung menganut budaya instan dan pop hedonis sehingga diperlukan upaya counter kebudayaan dan salah satunya yang penting untuk itu adalah membudayakan membaca atau memasyarakan membaca dan membacakan masyarakat.

 

Pelajar sebagai pelopor terbaik untuk mewujudkan budaya gemar membaca di masyarakat sehingga perlu terlebih dahulu mengamalkan membaca di lingkungan pelajar sebagai identitas kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab persoalan betapa rendahnya minat baca pelajar Indonesia (hanya membaca buku pelajaran).

 

Dari penelitian yang pernah dilakukan Taufiq Ismail misalnya kita bisa merenungkan betapa minimnya minat dan tradisi membaca di Indonesia. Dari sejumlah SMA yang ada di 13 Negara mewajibkan bacaan bukunya. SMA Thailand Selatan 5 judul, Malaysia 6 judul Kuala Kangsar, 3 SMA Singapura 6 judul, 4 SMA Brunei Darussalam 7 judul, Rusia 12 judul, Kanada 13 judul Canterbury, Jepang 15 judul, Swiss 15 judul, Jerman Barat 22 judul, Perancis 30 judul, Belanda 30 judul, Amerika Serikat 32 judul, AMS Hindia Belanda 25 judul, AMS Hindia Betarida 15 judul, SMA Indonesia 0 judul.

 

Maka tidak mengherankan pada tahun 2006, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan masyarakat Indonesia belum menempatkan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Penduduk Indonesia lebih memilih menonton TV (85,9 persen) dan mendengarkan radio (40,3 persen) daripada membaca suratkabar (23,5 persen).(Pikiran Rakyat, 25 April 2007).

 

Rendahnya budaya baca dan tulis juga dapat dilihat dari produksi buku di Indonesia yang masih sangat rendah. Setiap tahun Indonesia yang berpenduduk ebih dari 220 juta jiwa hanya memproduksi 10.000 judul buku dengan jumlah setiap judul mencapai 3.000 eksemplar atau tiga juta eksemplar per tahun itupun 55 persen adalah buku terjemahan. Sebagai perbandingan Malaysia yang berpenduduk 26 juta jiwa tiap tahun menghasilkan jumlah buku baru yang sama.

 

Sebagian bangsa kita terbiasa dengan budaya lisan dan tutur. Hal ini berarti menunjukkan daya serap informasi yang sangat terbatas karena kekuatan orang bicara dan mendengar jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan potensi menyerap pengetahuan melalui aktivitas membaca. Oleh karena itu, bangsa yang maju lebih berorientasi pada budaya tulis dibandingkan dengan budaya tutur dan lisan.

 

Gerakan Iqra' di lingkungan IRM sudah berusia hampir 6 tahun usianya, sebagai refleksi, gerakan ini belum berjalan dengan optimal. Banyak kendala dan hambatan ditemukan, di antaranya adalah lemahnya kesadaran kader secara personal dan budaya membaca masih sangat rendah. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas adalah paradigma masyarakat dan pemerintah yang belum menempatkan aktivitas membaca sebagai kegiatan pokok dalam pendidikan dan penagajaran. Orientasi hasil dan bukan proses menjadi ciri khas pendidikan di Indonesia. Ketidakseriusan ini bisa dilihat dari sedikitnya jumlah perpstakaan yang memadai yaitu 95% dari jumlah sekolah dasar yang jumlahnya mencapai 200.000 unit belum mempunyai perpustakaan. Progammer for Internastionale Student Assesment(PISA) tahun 2003, yang meneliti 40 negara menempatkan Indonesia paling rendah dalam kemampuan membaca (Republika, 9 Nopember 2007).

 

Di tengah pergulatan globalisasi dan modernitas, pilihan Gerakan Iqra' dalam tubuh IRM/IPM menjadi sangat signifikan dan relevan. Sudah seharusnya gerakan membangun budaya membaca tidak hanya dirumuskan hanya menjadi harapan, karena keberhasilan bukan untuk orang yang hanya berharap, akan tetapi sejauh mana diusahakan dan diperjuangkan dengan penuh kesungguhan, keuletan, dan ikhtiar sekuat tenaga.

 

Nama Agenda Aksi

GERAKAN IQRA'

 

Pengertian

Gerakan Iqra' adalah gerakan membangun budaya membaca dan menulis untuk kader dan basis massa di dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

 

Orientasi

Membangun Gerakan Budaya memnbaca yang mencerminkan nilai-nilai intelektualitas dan keilmuan di kalangan pelajar Muhammadiyah.

 

Tujuan

1.       Mewujudkan pelajar Muhammadiyah yang mempunyai kesadaran terhadap pentingnya budaya membaca dan menulis

2.       Menciptakan wadah untuk mengapresiasi potensi dan minat pelajar dalam bidang keilmuwan dan tulis menulis.

3.       Mewujudkan kader Ikatan yang memiliki kepekean dan tradisi berfikir kritis terhadap realitas yang ditopang oleh basis ilmu pengetahuan dan intelektualitas.

4.       Mengembangkan dan meningkatkan berbagai ragam minat dan potensi kader Ikatan sehingga terwujud kader-kader yang kompeten dalam berbagai bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. 

 

 

Target

Terwujudnya budaya membaca sebagai identitas kader dan anggota di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

 

Agenda Aksi :

1.       Pembiasaan membaca Buku sebagai aktivitas wajib bagi setiap kader untuk membaca buku atau karya tulisa lainnya misalnya untuk kader tingkat ranting selama seminggu harus membaca minimal 2 buku dan mempu menceritakan. Syarat membaca buku dan mereview juga bias diterapkan sebagai syarat jenjang kepemimpinan misalnya calon pimpinan wilayah harus sudah membaca buku judul tertentu.

2.       Kajian berkala sebagai ruang tukar-menukar pengetahuan dari penulis buku, teman sebagai pembelajaran untuk berani mengungkapkan pikiran. Kajian berkalan bias dilakukan bulanan atau mingguan dengan tema tertentu.

3.       Melakukan arisan tulisan dapat dilakukan secara berkala di lingkungan pimpinan dengan ketentuan tema-tema yang disepakati (aktual).

4.       Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk merangsang motivasi kader dalam hal tulis-baca seperti, pelatihan jurnalistik, pelatihan menulis cerpen/novel, kursus bahasa asing, pelatihan debat, pelatihan metode penelitian dan lain sebagainya.

5.       Menciptakan aktifitas aplikatif untuk menyalurkan kemampuan dan ketrampilan dari hasil pelatihan atau baca-tulis kader, dengan mengikutserta-kan kader dalam setiap lomba penulisan karya tulis ilmiah, popular, lomba cerpen  atau dalam agenda lomba debat konstruktif antar pelajar/remaja.

6.       Menciptakan komunitas kreatif  untuk mengaktualisasikan potensi kader seperti kelompok-kelompok ilmiah pelajar (KIP), Kelompok pecinta Cerpen (KPC), Kelompok pecinta puisi/ sastra dan sebagainya.

7.       Mengadakan Bedah Buku untuk merangsang minat membaca dan mengapresiasi suatu karya tulis dan memberikan penilain yang kritis.

8.       Melakukan aktifitas rekreatif dengan mengajak kader ke tempat-tempat yang benuansa imajinatif, terkesan santai tapi serius, seperti berkunjung ke pusat-pusat perbukuan, toko buku, perpustakaan komunitas, silaturahmi tokoh, wisata baca. Selain itu aktivitas rekreatif dimaksudkan untuk menciptakan karya tulis tertentu dengan melakukan wawancara kepada komunitas, membaca alam, dan lain-sebagainnya.

 

Peserta

Peserta atau sebagai target gerakan adalah basis massa IRM di semua tingkatan baik ranting, cabang, daerah. Wilayah dan pimpinan pusat.

 

 

Operasional/Pelaksanaan :

1.       Pimpinan Ranting. Melaksanakan berbagai kegiatan yang mampu memberikan wadah dan apresiasi terhadap minat pelajar dan anggotanya.

2.       Pimpinan Cabang. Selain memberikan wadah untuk mengapresiasi potensi anggota lintas ranting, Cabang juga dharapkan mampu membentuk komunitas-komunitas yang mencerminkan potensi dan minat pelajar dalam hal baca dan tulis-menulis. Selain itu, cabang memfasilitasi kegiatan ranting kepada daerah.

3.       Pimpinan Daerah. Pimpinan Daerah dapat mengemas kegiatan ranting dalam format yang lebih kreatif, inovatif, lebih luas, tidak terbatas pada sekolah Muhammadiyah sehingga kiprah dalam rangka membangun gerakan budaya membaca dapat diterima secara lebih luas dan memasyarakat. Daerah juga memfasilitasi pengembangan bakat dan minat anggota lebih luas untuk diapresiasi atau kompetisi.

4.       Pimpinan Wilayah. Pimpinan Wilayah memfasilitasi daerah untuk membentuk jejaring dengan lembaga lain, mengartikulasikan keputusan-keputusan di itngkat nasional untuk membangun gerakan budaya di daerah, cabang, dan ranting. 

5.       Pimpinan Pusat. Pimpinan Pusat menyusun konsep gerakan bersama wilayah dan daerah yang berorientasi kepada kondisi obyektif di basis massa sebagai upaya mencarin solusi terkait rendahnya minat baca pelajar Indonesia. Pimpinan pusat melakukan propoganda gerakan di berbagai media massa Nasional untuk memberikan stimulus di wilayah/daerah dan juga membentuk jejaring yang kuat dilevel nasional untuk gerakan budaya baca.

 

 

Indikator Keberhasilan

Keberhasilan gerakan membangun budaya membaca dapat dilihat dari dua hal yang saling mendukung.

Pertama, dalam ruang kesadaran. Hal ini diketahui dari pola berfikir yang transformatif yaitu masyarakat mulai meyakini bahwa aktivitas membaca mampu memberikan pencerahan, membuka cakrawala pengetahuan, dan mampu mengentaskan kebodohan, atau yang lebih pragmatis meyakini bahwa tanpa membaca pendidikan tidak berarti apa-apa. Masyarakat kemudian menempatkan kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan  yang tidak terpisahka dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menempatkan aktivitas membaca sebagai kegiatan pokok, bukan sambilan atau hiburan.

Kedua, dalam perilaku. Perilaku sangat dipengaruhi oleh kesadaran seseorang. Apabila dalam pikirannya meyakini bahwa membaca akan membuat orang lebih pintar, lebih terbuka, dan sebagainya maka seseorang tersebut akan berusaha mencapainya. Perilaku yang mencerminkan kesadaran membaca dapat diukur dari frekuensi buku yang dibaca, jenis bacaan, lama membaca, jumlah karya tulis, dan kemampuan menyampaikan apa yang sudah dibaca serta kemampuan menghaisilkan karya-karya baru yang muncul akibat proses membaca/proses belajar yang intensif dan tekun.

 


sibin2007 wrote on Mar 12, '08
Yuk kita bangun generasi qur'ani...
The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani
 Yess!
http://sibin2007.multiply.com/tag/al-qur'an

http://myquran.org/forum/index.php/topic,1490.0.html
mutitem wrote on Sep 13, '09
, dan kemampuan menyampaikan apa yang sudah dibaca serta kemampuan menghaisilkan karya-karya baru yang muncul akibat proses membaca/proses belajar yang intensif dan tekun.

... dan kemampuan tuk ngamalkan: mbuat sesatu barang nyata tuk mamfaat ekonomi, sosial, dan budaya.
Add a Comment